Perjalanan Cinta Si Culun dari Desa...

Apr 12, 2016 by

Cerita ini hanya sebagai kayalan fiksi belaka, jika ada kemiripan pengalaman dan nama saudara saudari mohon maaf sebelumnya. Awal kisah Si Culun dilahirkan dalam keluarga yang harmonis dan disuatu desa yang sangat indah pemandangannya. Si Culun kecil hidup seperti anak anak desa lainya secara wajar dan normal. Permainan Si Culun di desa antara lain  gobaksodor , tengsek, main kelereng, petak umpet , jek jekan , egrang . Permainan permainan tersebut sekarang ini sangat jarang dijumpai pada jaman sekarang yang serba modern. Si Culun mulai masuk sekolah yang di mulai Tk . Cerita Si Culun berlanjut dengan normal seperti anak anak biasa. Hidup ceria sebagai anak anak. Kemudian singkat cerita naik ke tingkat SD. Disini awal muasal Si Culun mulai dijuluki Si culun karena selama SD menjadi bahan bercandaan dan bahan buli an teman teman...

read more

Aku, Kau, dan Hujan

Dec 9, 2014 by

Rana menguap lebar. Sinar matahari memaksanya untuk bangun. Hari ini Rana berencana terlambat untuk  yang kesekian kali. Entah mengapa, Rana sangat membenci hari senin . Rana selalu merasa sial jika bertemu hari Senin. Dan benar saja, hujan turun tepat saat Rana sedang berlari menuju halte. Rana berdiri di tepi halte. Halte sedikit lebih ramai dari biasanya. Ada yang sedang duduk sambil merokok, ada yang mengumpat pada hujan. Namun, saat ini ia sedang sibuk melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 06.30. Bus hijau itu belum datang. Lengan kanannya sudah basah kuyup. Tepat 5 menit kemudian, bus hijau yang ditunggu pun datang. Rana berdesak- desakan dengan penumpang lainnya. Sialnya, Rana terpaksa berdiri kali ini. Sampai di depan sekolah, beruntung, gerbang sekolah belum ditutup. Rana segera berlari menuju kelasnya di lantai dua. “Lu bikin gue deg-degan...

read more

Ada Pelangi Setelah Hujan

Dec 9, 2014 by

“La, cepetan dong dandannya, lama banget sih. Udah laper nih!”, cerocos kakakku yang nyebelin, aku tak menghiraukan teriakannya. Memang kakak selalu tidak sabar menungguku mengenakan jilbab. Setelah selesai aku langsung menyambar tasku dan menuju ruang makan. “Nah itu orangnya udah dateng, ayo Yah, Bu, dimulai. Udah laper nih,” cerocos kakakku lagi. Kakakku memang laki-laki tapi kalau dengan adiknya cerewetnya muncul. Pernah suatu kali aku menghilangkan pensilnya, kata kakak itu pensil kesayangannya. Selama seminggu setiap bertemu denganku, kakak selalu mengungkit-ungkit masalah kecil itu, tak bosan-bosannya dia menyindirku. Sampai suatu saat, ibu menasehati kakak dan memintaku untuk mengganti pensilnya dengan syarat pensil itu harus sama persis seperti yang aku hilangkan. Aku sampai harus memasuki lima toko untuk mendapatkan pensil itu. “Makan yang banyak biar nggak cungkring,” ejek kakak padaku. Aku diam saja. “Udah, nggak usah mengejek...

read more