Aku, Kau, dan Hujan

Dec 9, 2014 by

Rana menguap lebar. Sinar matahari memaksanya untuk bangun.

Hari ini Rana berencana terlambat untuk  yang kesekian kali.

Entah mengapa, Rana sangat membenci hari senin .

Rana selalu merasa sial jika bertemu hari Senin. Dan benar saja,
hujan turun tepat saat Rana sedang berlari menuju halte.

Rana berdiri di tepi halte. Halte sedikit lebih ramai dari
biasanya. Ada yang sedang duduk sambil merokok, ada yang
mengumpat pada hujan. Namun, saat ini ia sedang sibuk melihat jam
tangan yang sudah menunjukkan pukul 06.30. Bus hijau itu belum
datang. Lengan kanannya sudah basah kuyup. Tepat 5 menit
kemudian, bus hijau yang ditunggu pun datang. Rana berdesak-
desakan dengan penumpang lainnya. Sialnya, Rana terpaksa berdiri
kali ini. Sampai di depan sekolah, beruntung, gerbang sekolah
belum ditutup. Rana segera berlari menuju kelasnya di lantai dua.
“Lu bikin gue deg-degan deh, Na. Lu tau kan sekarang jam
berapa? Hari ini pelajarannya..”
“Iya, iya, gue tau, Nona Jihan. Maaf maaf”
Rana langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela,
tak menggubris Jihan yang duduk di sampingnya. Tiba-tiba
pandangan Rana tertuju pada gedung yang berseberangan dengan
kelasnya. Rana melihat lelaki yang nampak asing dimatanya. Lelaki
itu berdiri di depan kelas sedang bermain gitar. Lamunan Rana
terhenti saat Pak Hanung, guru matematika, masuk ke kelas. Saat

jam istirahat tiba, Rana langsung menghambur ke kelas tempat ia
melihat lelaki tadi. Beruntung, Bima, teman dekat Rana, berada di
kelas yang sama dengan lelaki itu.
“Bim, lu tau cowok yang tadi pagi main gitar di depan
kelas?”, tanya Rana pada Bima.
“Ooh, itu sih Gamal. Emangnya kenapa?”
“Nggak kenapa kenapa sih. Dia anak baru? Kok gue baru liat
hari ini?”
“Iya, dia anak baru. Pindahan dari Sumatera. Lu naksir, Na?
Cieee,” Bima langsung menyenggol lengan Rana. Rana langsung
balik mencubit lengan gempal Bima dan buru-buru kembali ke
kelasnya.
Jam pulang sekolah yang ditunggu-tunggu datang. Rana
buru-buru keluar kelas, karena mamanya yang membuka usaha
catering meminta Rana langsung pulang untuk membantu
pegawainya membuatkan pesanan dari pelanggan.
BRUKKK!!!!
Rana jatuh terduduk sambil menggumam kesakitan. Buku
yang ia pegang jatuh berhamburan.
“Aduuh.. kalo jalan lihat-lihat dong. Sakit tau.” Rana
kembali berdiri dan betapa terkejutnya saat ia melihat siapa yang
menabraknya. Gamal. Ya, lelaki itu. Gamal langsung berdiri,
mengucapkan “Maaf, nggak sengaja” lalu kemudian ia pergi. Rana
masih berdiri keheranan melihat keanehan Gamal tadi.
“Cih, cowok macam apa dia? Cuma bilang maaf,terus
langsung pergi? Dasar cowok aneh!” ujar Rana yang langsung pergi
ke halte bersama dengan warga sekolah lain.
Sore ini hujan turun lagi. Rana masih terlelap, kelelahan
membantu mamanya tadi siang. Dalam tidurnya, Rana bermimpi
berada di sebuah pemakaman. Semua teman-temannya juga hadir di
acara pemakaman itu. Rana menangis. Semua teman-temannya juga
menangis. Rana tidak tahu siapa yang meninggal, tapi ia tetap
menangis. Rana terbangun dalam keadaan menangis.
Malam saat Rana memberesi buku pelajarannya, ada kertas
kecil jatuh dari dalam buku cetak matematikanya. Rana segera
mengambil kertas itu dan membaca tulisan dibaliknya.

Aku suka hujan di pagi hari. Termasuk hujan pagi ini.
Hujan mempertemukan aku denganmu.
Rana tersenyum lebar. Tak lama, Rana tertawa terbahak-
bahak dan langsung menyimpan surat kecil itu di dalam buku
catatan. Rana tak curiga sama sekali siapa yang meletakkan surat itu
di dalam bukunya, karena Rana berpikir itu hanya iseng-isengan
teman sekelasnya saja.
Hari-hari berikutnya Rana jadi curiga dengan surat-surat
kecil yang terselip di bukunya. Setiap hari, terutama saat hujan,
surat-surat itu selalu menghantui Rana. Akhir-akhir ini Rana jadi
paranoid. Saat hujan turun, Rana berpikiran bahwa si pengirim surat
selalu mengawasinya dan jika ia tidak berhati-hati, mungkin si
pengirim surat itu akan menculiknya dengan tiba-tiba. Ketakutan
Rana tak sampai disitu. Setiap pagi, jika hujan, Rana meminta mama
mengantarnya ke sekolah. Suatu hari, Mama Rana pernah bertanya
pada Rana.
“Kamu kenapa sih, Na? Kok jadi fobia gini sama hujan?
Biasanya kan kamu suka hujan-hujanan.” tanya mama penasaran.
“Emmm..Rana mau cerita sesuatu sama mamah. Tapi, nanti
aja, waktu pulang sekolah,” jawab Rana ragu-ragu.
Semenjak itu, Mama Rana juga ikut khawatir. Surat surat itu
mengalir deras setiap hari. Anehnya, Rana tidak pernah membuang
satu surat pun. Rana bahkan menyimpan dan menempelnya di buku.
Satu tahun berlalu. Sekarang Rana kelas XII. Surat-surat itu
masih setia menyisip di bukunya, menyelinap di bawah pintu,
tergantung di pohon depan rumah, dan bahkan pernah menempel di
jendela bis hijau yang biasa Rana tumpangi.
“Bim, kira-kira siapa ya pengirim suratnya? Makin lama gue
makin penasaran. Apa jangan-jangan elu pengirimnya? Ngaku
nggak Bim!” tanya Rana sambil menodongkan sendok makannya ke
muka Bima. Bima dan Rana mengadakan pertemuan rahasia di
markas mereka, di rumah pohon yang dibuatkan Papa Bima saat
Bima masih berusia 5 tahun.
“Bukan gue, Na. Beneran. Buat apa coba gue ngirim surat-
surat gitu. Gue orangnya nggak bisa romantis,” jawab Bima yang

masih lahap memakan spaghetti buatan Mama Rana.
“Trus, siapa dong? Duuuh bikin pusing nih.” Rana
mengacak-acak rambutnya dan menggumam kesal.
“Jangan-jangan si Gamal…” Tiba-tiba Bima menutup
mulutnya, menghentikan laju bicaranya.
“Gamal? Kenapa Gamal? Gamal yang ngirim surat-surat
itu?”tanya Rana yang makin penasaran dengan sikap Bima. Akhir-
akhir ini, Bima memang sengaja menjaga jarak dengan Rana karena
Gamal… ya karena Gamal…
Semenjak tahu bahwa Gamal-lah si pengirim surat, Rana
buru-buru ingin bertemu dengan Gamal. Tapi sayang, sebulan
terakhir Gamal tidak masuk sekolah. Bima juga tidak tahu menahu
dimana keberadaan Gamal sekarang.
“Ranaaaa Ranaaaa.. Buruan sini deh! Gue tau dimana Gamal
sekarang!” ujar Jihan yang masih berlari menghampiri Rana.
“Gamal dimana, Han? Lu beneran tau?” tanya Rana yang
masih tidak percaya dengan kata-kata Jihan barusan.
“Di rumah sakit. Gamal sakit leukimia dan udah stadium
akhir. Rana, mendingan lo ke sana sekarang juga. Dia butuh lo, Na.”
kata Jihan yang mencengkeram erat bahu Rana. Seketika Rana
menangis di bahu Jihan. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini.
Menemui Gamal saat ini juga atau tidak sama sekali.
Akhirnya, Rana memutuskan untuk menemui Gamal.
Bersama dengan Bima dan Jihan. Saat di depan ruang ICU, bau obat
menyeruak memenuhi ruangan. Rana mengobrol dengan Mama
Gamal di depan ruang ICU. Mama Gamal mencurahkan semuanya,
termasuk penyakit Gamal. Ternyata Gamal mengidap leukimia
sejak umurnya masih 10 tahun. Sejak divonis dokter, Gamal menjadi
seseorang yang pendiam, tidak percaya diri, dan lebih senang
mengurung diri di kamar.
“Oh ya, Gamal juga pernah bercerita tentang Rana… ya
Rana.. Kamu Rana kan?” tanya Mama Gamal yang seketika
membuat Rana deg-degan. Rana mengangguk dengan ragu dan
sedikit malu.
“Gamal pernah cerita, dia lagi suka sama cewek, namanya
Rana. Tiap malam dia bikin puisi di kertas kecil-kecil, paginya dia

selalu berangkat lebih awal. Katanya sih mau ngasih puisi-puisi itu
ke kamu. Semenjak itu, dia jadi ceria dan lebih bersemangat. Mama
justru ingin berterimakasih sama kamu, Nak Rana. Terima kasih
sudah menjadi penyemangat buat Gamal,” ucap Mama Gamal
sambil mengusap air mata di pelupuk matanya. Rana juga ikut
menangis. Begitu juga Bima dan Jihan yang sedari tadi berusaha
menahan air matanya keluar.
“Oh ya, Tante. Rana boleh masuk nggak? Mau lihat Gamal.”
tanya Rana.
“Oh, boleh-boleh. Kalian masuk aja. Tapi, kayaknya Gamal
lagi tidur tuh. Nggak apa-apa kan?” jawab Mama Gamal sambil
tersenyum akrab.
“Iya, nggak apa-apa kok, Tante. Yang penting kita bisa tahu
kondisi Gamal sekarang.” jawab Bima yang disertai dengan
anggukan dari Rana dan Jihan.
Di ruang ICU, tubuh Gamal tergolek lemah. Gamal masih
tertidur. Saat Rana masuk, mata Gamal membuka. Senyum tipis
mengembang dari mulutnya.
“Gamal..kenapa bangun? Gue nganggu ya?” tanya Rana
dengan berbisik pelan pada Gamal.
“Enggak kok, nggak sama sekali. Justru gue mau bilang
makasih sama lo. Makasih ya udah nengokin gue,” jawab Gamal
dengan senyum malu dan tidak berani menatap langsung muka
Rana.
“Iya sama-sama..Oh ya, Gamal, gue mau tanya satu hal sama
lo. Tapi kayaknya nggak sopan banget gue tanya di sini..emm..besok
aja deh, kalo elo udah sembuh,” ujar Rana dengan sikap yang masih
mematung berdiri. Rana sendiri bingung hendak bertanya apa pada
Gamal.
“Tentang surat-surat itu? Hmm, maafin gue ya, Na. Surat itu
memang dari gue, gue buat sendiri. Bukan jiplakan loh.” kata Gamal
dengan sedikit terbatuk-batuk.
“Gue pengen ngomong sesuatu sama lo, Na. Tapi janji ya,
jangan kasih tau siapa-siapa.” lanjut Gamal.
“Iya..mau ngomong apa?”jawab Rana yang semakin gugup
berdiri di depan Gamal sedari tadi.

Tapi tiba-tiba mata Gamal menutup kembali. Rana panik dan
langsung memanggil Mama Gamal, Bima, dan Jihan. Saat
pemeriksaan berlangsung, Mama Gamal menangis sejadi-jadinya.
Rana juga kaget saat melihat dokter menggunakan alat kejut jantung
agar jantung Gamal kembali berdetak. Namun, semua itu berakhir
saat garis hijau di monitor itu bergerak lurus. Tidak berdetak. Hanya
mengeluarkan bunyi bip panjang yang memekakkan telinga. Mama
Gamal langsung menggoyang-goyangkan tubuh Gamal. Rana
menangis dan jatuh terduduk. Dadanya terasa sesak. Napasnya
macet di tenggorokan. Bulir-bulir bening itu semakin deras
membasahi pipi Rana. Bima dan Jihan juga tak kuasa menahan
tangis. Sore tepat saat hujan turun di tanggal 27 Januari, Gamal
menghembuskan napas terakhirnya. Tepat sehari sebelum Rana
berulang tahun.
Saat upacara pemakaman, Rana tak henti-hentinya
menangis. Mama Gamal sempat pingsan dua kali saat Gamal
dikuburkan. Teman-teman sekolah lain juga tak bisa
menyembunyikan kesedihannya. Seusai pemakaman, Rana
menjenguk Mama Gamal yang masih menangis di sofa rumahnya.
Matanya sembab dan bengkak.
“Tante, Rana mewakili teman-teman ikut berbela sungkawa
atas meninggalnya Gamal. Tante yang tabah dan ikhlas ya,” ujar
Rana sambil mengelus-elus pundak Mama Gamal. Mama Gamal
langsung memeluk Rana dan berterima kasih atas semuanya.
Saat Rana hendak berpamitan, Mama Gamal memberi
sesuatu pada Rana.
“Rana, ini surat dari Gamal buat kamu. Katanya, tante harus
ngasihin surat ini di hari ini juga. Sekali lagi, tante mau ngucapin
makasih sama kamu, Na. Terima kasih sudah membuat hidup Gamal
lebih berarti,” ujar Mama Gamal dengan senyum tipisnya. Rana
langsung pulang. Ia tidak sabar ingin membaca isi surat itu.
Sampai di rumah, Rana langsung masuk kamar dan
membuka perlahan amplop surat tadi. Surat itu ditulis tangan dengan
sangat rapi dan indah. Rana tersenyum kecil saat melihatnya.
Dibacanya perlahan surat itu.

Untuk Rana,
Wanita yang sangat kusayangi setelah Ibuku
Hai Rana, ini pertama kalinya aku menyapamu. Walaupun lewat
surat, aku anggap ini sapaan resmi dariku padamu. Kau tau kan, aku
sangat pemalu di depan wanita.
Kalau kau membaca surat ini, pasti aku sudah tidak ada di dunia ini.
Sebenarnya aku sangat kecewa. Aku ingin menyatakan perasaanku
padamu secara langsung. Tapi fisikku tidak mampu lagi.
Aku mencintaimu, Rana. Sangat mencintaimu. Dan kau tau kenapa
aku suka sekali pada hujan? Aku berharap aku bisa mencintaimu
seperti hujan. Banyak. Tak terduga. Tak mengharap balasan. Aku
ingin selalu ada disampingmu saat kamu kehujanan. Aku ingat
pertama kali aku melihatmu. Di halte itu. Saat hujan deras
mengguyur di halte. Kau hanya mampu berteduh di tepi halte. Aku
tersenyum kecil melihatmu saat itu. Saat itu juga, aku merasa ada
yang berbeda dengan hatiku. Perasaan itu makin membesar setiap
hari. Setiap hari juga aku harus merasakan penyakit ini makin
menggerogoti tubuhku.
Oh ya, aku lupa. Saat kau menerima surat ini, seharusnya sekarang
tanggal 28 Januari. Aku harap, mamaku tidak lupa memberikannya
padamu. Selamat ulang tahun, Rana. Maaf aku tidak bisa
mengucapkan secara langsung padamu. Semoga di hari bahagiamu
ini, semua harapan dan doamu bisa terkabul. Aku juga ingin
berterima kasih padamu. Terima kasih karena membuat hari-hariku
jadi lebih berwarna. Terima kasih karena telah membuatku jadi
lelaki yang puitis. Terima kasih karena kau mau menyimpan surat-
suratku. Terima kasih telah membuatku jatuh cinta padamu. Terima
kasih untuk semuanya. Terima kasih, Rana.
Aku beruntung bisa mengenal dirimu. Aku menyayangimu, Rana.
Sangat-sangat menyayangimu.

Rana menangis sejadi-jadinya. Tangis haru, sedih, bahagia,
bercampur jadi satu. Dalam hati, Rana berseru “Aku juga
menyayangimu, Gamal. Sangat menyayangimu.”
Setahun kemudian
Pagi menyambut Rana. Rana sekarang jadi mahasiswa baru
di universitas ternama di Jakarta. Rana berangkat ke kampus dengan
bis, seperti yang biasa ia lakukan dulu saat SMA. Pagi ini hujan turun
sangat deras tepat saat Rana sampai di halte. Bis hijau itu datang.
Rana buru-buru masuk dan beruntungnya banyak kursi kosong.
Rana memilih duduk dekat jendela. Saat bis hendak berangkat, Rana
menoleh ke halte. Sesosok lelaki yang dikenalnya dulu, sedang
duduk disana. Berpakaian seragam SMA. Lelaki itu tersenyum pada
Rana. Dia Gamal. Rana kaget bercampur senang. Rana berbalik
tersenyum pada Gamal dan sempat melambaikan tangan padanya.
Tepat saat bis melaju, Gamal menghilang. Sosok itu hilang. Tapi,
Rana merasa sangat bahagia dengan pertemuan singkat itu. Gamal..
hanya Gamal yang mampu membuat Rana jatuh cinta.

By Putri Febri Laduni (18)

 

Related Posts

Tags

Share This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *