Ada Pelangi Setelah Hujan

Dec 9, 2014 by

“La, cepetan dong dandannya, lama banget sih. Udah laper nih!”, cerocos kakakku yang nyebelin, aku tak
menghiraukan teriakannya. Memang kakak selalu tidak sabar
menungguku mengenakan jilbab. Setelah selesai aku langsung
menyambar tasku dan menuju ruang makan.
“Nah itu orangnya udah dateng, ayo Yah, Bu, dimulai. Udah
laper nih,” cerocos kakakku lagi. Kakakku memang laki-laki tapi
kalau dengan adiknya cerewetnya muncul.
Pernah suatu kali aku menghilangkan pensilnya, kata kakak
itu pensil kesayangannya. Selama seminggu setiap bertemu
denganku, kakak selalu mengungkit-ungkit masalah kecil itu, tak
bosan-bosannya dia menyindirku. Sampai suatu saat, ibu
menasehati kakak dan memintaku untuk mengganti pensilnya
dengan syarat pensil itu harus sama persis seperti yang aku
hilangkan. Aku sampai harus memasuki lima toko untuk
mendapatkan pensil itu.
“Makan yang banyak biar nggak cungkring,” ejek kakak
padaku. Aku diam saja.
“Udah, nggak usah mengejek adikmu, lagi makan juga!”,
kata ibu menasihati.
“Iya, kamu tuh kalau adiknya di rumah diejek, kalau nggak di rumah
atau pergi, sedih. Dasar..,” ayahku menambah. Memang apa yang
dikatakan ayah benar, tapi aku dan kakak walaupun suka mengejek,
tapi kita tetap kakak-adik yang selalu mengerti perasaan masingmasing.
Dan aku bangga punya kakak seperti kakakku. Tak apa…
“Dah..,” kataku sambil melambaikan tangan kepada
kakakku. Kakak berjalan menuju kelasnya, dan aku pun menuju ke
kelasku.
Oh iya, perkenalkan namaku Arsyila Ni’matul Muna, aku
kelas XI SMA, aku bersekolah di SMA favorit di daerahku. Awalnya
aku tak menyangka bisa masuk SMA ini, dan aku sebenarnya tidak
terlalu berharap dapat diterima di sekolah ini. Tapi berhubung aku
lolos seleksi, aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan aku
selalu berterima kasih kepada Allah.
Hari ini aku piket, jadi aku berangkat jam 06.00 WIB,
biasanya setelah piket aku menuju ke kelas kakakku, baru setelah
jam 07.30 WIB aku kembali ke kelasku lagi. Aku melihat pintu kelas
XI 3 sudah terbuka, tidak biasanya teman-teman sekelasku datang
sepagi ini. Kelasku memang berada di pojok dekat dengan toilet.
Aku pernah dengar cerita dari kakak kelas kalau… Ah lupakan!
Berfikir positif itu penting. Tapi tanganku merinding. Aku
melangkah mendekati pintu dan melongokkan kepalaku ke dalam
kelas.
“Hai!”, seorang anak laki-laki menyapaku, tapi dia siapa?
Aku tak mengenalnya. Jangan-jangan dia sebenarnya seorang
“Hantu!”, teriakku sambil menutup mukaku dengan kedua telapak
tangan. Aku hendak berlari, tiba-tiba tanganku ditahan oleh anak
laki-laki itu.
“Tolong jangan sakiti saya, saya tidak mengganggumu,
tolong, tolong..,” kataku terengah-engah.
Detik demi detik berlalu, tak ada jawaban. Anak itu hanya
diam dan menatapku aneh.
“Kamu manusia beneran?”, tanyaku spontan. “Maaf aku
kira kamu…”
“Iya nggak apa-apa, namaku Ryan, aku anak baru. Bisa kita
berteman?”, tanyanya sambil menjulurkan tangan.
“Tentu saja, namaku Arsyila,” kataku canggung sambil
mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. Kerudungku
berkibar ditiup angin.
Aku dan Ryan masuk kelas, seperti biasanya aku menyapu
setengah kelas(Yang setengahnya supaya disapu oleh teman yang
lain.) Setelah selesai aku tidak pergi ke kelas kakakku, aku tidak
enak dengan Ryan.
“Ar…Arsyila… benarkan?”, tanyanya.
“Iya, biar gampang panggil aja Lala,” kataku.
“Tinky Winky, dipsy, Lala, Po..,” ujar Ryan sambil
memperagakan gaya Teletubbies. Aku tertawa, Ryan juga tertawa.
Suasana menjadi lebih cair.
Dari obrolanku dengannya aku tahu bahwa Ryan itu
sebenarnya anak Yogyakarta yang pindah ke Magelang, karena
ayahnya bertugas ke luar negeri dan ibunya menemani ayahnya.
Sebenarnya Ryan diajak ke Kanada, tempat ayahnya ditugaskan,
tetapi Ryan tidak mau dan memilih tinggal bersama neneknya di
sebuah desa kecil di Magelang.
“Hai La, pagi banget berangkatnya?”, tanya sahabat
terbaikku, Rifa. Aku dan Rifa sudah bagai gula dan semut, disitu ada
Rifa disitu pula ada aku.
“Iya dong, emangnya kamu?”, cibirku pada Rifa,
“La itu siapa? Ganteng juga orangnya, hehe… Anak baru
ya?”, bisik Rifa padaku.
Aku hanya mengangguk.
“Hai aku Rifa!”, Rifa memperkenalkan diri sambil
menjulurkan tangannya.
“Halo, aku Ryan,” jawabnya sambil mengatupkan kedua
telapak tangannya di depan dada. Ingin rasanya aku meledakkan
tawaku, Ryan ternyata meniru sikapku saat aku berkenalan
dengannya. Tapi aku urung dan aku hanya tersenyum, mengkin
senyum paling anehku, karena aku menahan tawaku yang rasanya
akan segera meledak. Mereka berdua langsung akrab, karena Ryan
memang seorang yang easy going.

Aku kembali ke bangku dan membuka buku matematikaku.
Aku memang terlahir dari keluarga sederhana, tidak kaya raya, tapi
Alhamdulillah berkecukupan. Dan aku juga memiliki otak yang
biasa-biasa saja, jadi aku harus belajar dahulu sebelum pelajaran,
sehingga aku mudah untuk mengikuti pelajaran. Namun aku selalau
bersyukur atas segala anugerah yang diberikan Allah kepada
keluargaku. Dan aku bangga mempunyai sahabat setia, separti Rifa.
Kulangkahkan kakiku di atas jalan setapak yang
menghubungkan desaku dengan jalan raya. Kicauan burung selalu
menyemangatiku untuk terus berjalan, dan gemerisik dedaunan
menyambutku ramah. Semilir angin membuat padi-padi yang
terhampar menari-nari membentuk pola yang indah yang
menyejukkan mata.
“Kok baru pulang, La?”, tanya kakak saat aku sampai di
depan rumah. Kakak yang selalu menjadi sumber semangat dalam
hidupku. Kakak memang seseorang yang biasa saja, tapi bagiku dia
merupakan lentera hidupku. Kakak selalu mengajariku untuk
bersabar.
“Kok diem aja? Cepetan sana ganti baju, bau tauk!”, ujar
kakak.
Aku hanya tersenyum dan langsung masuk ke rumah
sederhana keluarga kami. Kakakku memang special untukku. Aku
menjadi seperti ini juga karena kakakku. Kakak memang seorang
muslim yang taat. Dia selalu salat tepat waktu, sedangkan aku masih
suka mengundur waktu salatku. Dulu aku tidak mau mengenakan
kerudung, beribu alasan aku ungkapkan ketika ayah dan ibu
menyuruhku untuk mengenakannya.
“La kamu itu udah baligh, udah waktunya kamu menutup
aurat kamu, termasuk rambut kamu itu!”, pinta ibu padaku.
“Em… besok-besok aja lah, Bu,” jawabku sambil
mengeloyor pergi meninggalkan ibu. Aku tidak mau menyakiti hati
ibu, tapi aku juga tak mau melanjutkan pembicaraan tentang hal itu.
Kalau sudah begitu, kakak langsung membuntutiku.
Mengikuti diriku yang berjalan. Dan berhenti mengikutiku sampai
suatu tempat dimana aku berhenti. Dia lalu menasihati aku, tapi
bukan nasihat yang membuatku muak mendengarnya. Bukan pula
nasihat seperti dalam pidato. Hanya nasihat yang ringkas tapi penuh
makna.
“Tahu nggak Dik, setiap buah itu ada kulit yang
membungkusnya. Coba kalau buah nggak ada kulitnya, atau buah itu
kulitnya dihilangin, maka isi buah itu bias rusak bahkan busuk. Tapi
itu buah, masih mending. Coba kalau itu manusia,” ujar kakak
padaku.
Aku selalu menelaah nasihat-nasihat kakak, hingga suatu
saat aku sadar akan pentingnya menutup aurat, lalu aku memutuskan
untuk mengenakan kerudung karena Allah.
Selama ini persahabatanku dan Rifa baik-baik saja, apalagi
setelah Ryan menjadi sahabat kami. Kami bertiga selalu kompak,
dimana-mana selalu bertiga. Tak jarang, aku, Ryan, dan Rifa belajar
bersama, mengerjakan PR bersama, dan bermain bersama. Hingga
suatu saat ketika kelas XII, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Rifa, sahabatku sejak SMP menjauhiku. Aku tak tahu mengapa dia
menjauh dariku, seingatku, aku tak pernah menyakiti hatinya
maupun perasaannya. Aku merasa kehilangan sekali saat tak ada lagi
Rifa yang membuatku bahagia.
“Kau telah mempengaruhi Ryan supaya tak menerimaku
sebagai pacarnya kan? Jujur sajalah aku sudah tahu, dan kamu
melakukannya karena kamu juga suka sama Ryan. Kamu egois!”,
kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rifa, ketika aku
bertanya mengapa dia menjauhiku. Tanpa kusadari air mataku
merembes. Aku mendekatinya dan ketika tanganku hendak
memeluk Rifa, tubuhku terpental. Rifa mendorong tubuhku, aku tak
menyangka Rifa akan sampai seperti itu.
“Fa, aku sama sekali tak pernah mempengaruhi Ryan.
Bahkan aku tak tahu kalau kamu menembaknya, aku tak tahu..,”
kataku menjelaskan.
Aku tak menyinggung tentang perasaanku pada Ryan, aku
tak berani berterus terang padanya, aku takut dia akan tambah sedih.

Rifa terus mengumpat, aku menunduk dan diam saja. Rifa pun
berlari meninggalkanku, aku tak mengejarnya, mungkin dia butuh
waktu untuk mendinginkan kepalanya, dan menjernihkan
pikirannya. Aku yakin suatu saat Rifa pasti tahu aku tak pernah
mempengaruhi Ryan, sedikit pun tak pernah.
Hari terus berlalu, minggu terus berganti, bulan terus
bergulir, persahabatanku dengan Rifa terus memburuk, hubunganku
dengannya semakin jauh. Tapi, persahabatanku dengan Ryan masih
terus berlanjut, walaupun Ryan harus membagi waktunya untukku
dan Rifa. Ryan masih terus bersahabat dengan aku maupun Rifa.
Aku selalu bersikap biasa kepada Rifa, aku selalu tersenyum ketika
melihatnya. Aku berharap dengan sikapku ini Rifa akan segera
menjadi sahabat baikku lagi. Tapi, yang aku dapatkan adalah sikap
dingin Rifa saat aku tersenyum padanya. Rifa seolah tak peduli dan
tidak menganggap aku ada. Sepertinya sudah tak ada tanda-tanda
persahabatanku dengannya akan membaik.
Hari ini, satu bulan sebelum Ujian Nasional aku diajak Ryan
ke rumahnya, entah untuk apa Ryan memintaku untuk ke rumahnya.
Aku menuruti saja permintaannya. Aku melihat ada seorang gadis di
teras rumahnya. Sepertinya, dia sedang menunggu kehadiran Ryan.
Apakah itu pacar Ryan, lalu Ryan ingin memperkenalkannya
padaku? Tapi kenapa harus dikenalkan padaku? Itu membuat hatiku
tambah sakit. Suasana hatiku tak menentu, marah, sedih, galau,
cemburu, silih bergantimuncul di hatiku. Semakin dekat jarakku
dengan rumah Ryan, semakin jelas siapa gadis itu. Aku
memicingkan mataku, mengamati dengan saksama gadis itu. Tak
salah lagi, dia Rifa, tapi apa yang dilakukannya di sini? Dia
tersenyum padaku, benarkah? Aku menengok kiri kanan, ternyata
tak ada siapa-siapa. Berarti senyuman itu untukku, apakah aku
bermimpi? Ryan menarik lenganku agar aku berjalan lebih cepat.
Aku cubit tanganku, sakit, berarti ini kenyataan.
“La, maafin aku atas semua yang telah aku perbuat sama
kamu, yang bikin kamu sedih dan sakit hati. Maafin aku, aku
ternyata udah salah sangka sama kamu. Kamu emang sahabatku

yang paling baik,” ketika aku sampai di dekatnya dia langsung
memelukku erat, seolah tak mau kehilangan aku lagi. “Tentang
perasaan itu, kamu nggak usah khawatir, aku udah melupakannya.
Aku udah punya yang lebih baik,” Rifa berbisik di telingaku,
sepertinya dia tak mau Ryan sampai mendengar. Aku melepas
pelukannya, aku tatap mata Rifa, dia mengangguk dan tersenyum.
“Nah kalau begini kan jadi enak. Kenapa nggak dari dulu
aja?”, gerutu Ryan. Aku dan Rifa hanya tertawa mendengarnya.
Selama sebulan ini, aku, Ryan, dan Rifa selalu belajar
bersama untuk mempersiapkan UN. Kami saling membantu dalam
belajar. Suatu kali kami mengungkapkan harapan masin-masing.
“Semoga kita dapat melakukan yang terbaik untuk UN, dan
persahabatan kita tetap langgeng.”
“Semoga kita mendapat hasil UN yang maksimal, dan
persabatan kita tidak putus sampai di sini tapi tetap berlanjut.”
“Aku berharap ada pelangi setelah hujan dalam
persahabatan kita. Em… maksudnya hasil UN kita bisa menjadi
pelangi yang menghiasi persahabatan kita setelah ada masalah yang
berhasil kita selesaikan,” kata Ryan puitis, kami bertiga mengamini
doa-doa tersebut, yang pasti disaksikan malaikat. Amin…
Aula sekolah kami disulap menjadi panggung yang akan
menjadi bukti momen bersejarah. Apalagi kalau bukan wasana
warsa kelas XII. Suasana menjadi gegap gempita. Panitia sibuk
menata segala sesuatu. Aku mencari dua sahabat karibku, Rifa dan
Ryan. Ternyata mereka telah duduk di kursi deretan kedua dari
depan. Aku langsung menghampiri mereka.
“Hai, aku cari-cari ternyata disini!”, kataku seraya duduk di
dekat Ryan. Ryan duduk diapit oleh kedua sahabatnya. Rifa tak
menjawab, hanya tersenyum padaku.
“Eh…iya, kamu kelihatan beda tambah cantik La,” kata
Ryan lirih, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Tapi aku dapat
mendengar apa yang dikatakan Ryan. Aku tersipu malu, tapi segera
aku netralisir dengan mengajak mereka berdua bicara tentang masa
depan.

Tibalah di puncak acara, MC mengomando hadirin untuk
tenang dan mulai membacakan nama siswa yang masuk sepuluh
besar dan mempersilakan untuk maju ke panggung.
“Juara III diraih oleh Rifa Cahyani..,” aku menepuk-nepuk
bahunya, mengucapkan selamat berkali-kali.
“Juara II diraih oleh Arsyila Ni’matul Muna..,” aku melonjak
girang, aku langsung menuju ke panggung sembari melirik Ryan
sebentar dan tersenyum padanya. Tinggal Ryan yang belum
dipanggil diantara kami bertiga.
“Juara I diraih oleh..,” MC menggantungkan suaranya,
melihat ke hadirin. Sepertinya MC senang sekali bisa membuat
tegang seluruh hadirin.
“Juara I diraih oleh Ryan Maulana Putra..,” suara MC
menggema. Aku dan Rifa tos tanda kemenangan. Akhirnya kerja
keras aku, Rifa, dan Ryan selama ini membuahkan hasil.
Selasai acara aku berfoto bersama teman-temanku satu
kelas. Setelah puas dan lelah berfoto, aku duduk dan meminum air
mineral yang dari tadi belum aku sentuh. Tiba-tiba, seseorang
duduk di sampingku dan meminum air juga.
“Lelah tapi menyenangkan,” tuturnya.
“ Iya, ini hari yang bersejarah bagiku,” kataku menimpali.
“Tadi ada seseorang yang menitipkan ini padaku, katanya
untuk kamu, tapi kamu baru boleh buka kalau aku udah nggak ada di
sini,” katanya, dia memberikan amplop berwarna emas yang dihiasi
pita warna pink. Hanya ada tulisan To : Arsyila Ni’matul
Muna(Lala).
“Kenapa?”, tanyaku penasaran.
“Mungkin dia tidak mau aku melihat isi suratnya,”
jawabnya.
Ryan pun pergi meninggalkan aku sendiri. Aku membuka
amplop itu, sepertinya bukan surat dari sekolah maupun dari
perguruan tinggi, batinku. Lalu surat apa? Aku keluarkan kertas
putih di dalam amplop itu.

To : Arsyila Ni’matul Muna (Lala)
Terimakasih kau telah mengisi hidupku, mengisi ruang kosong di
hatiku. Aku tak tahu perasaanmu padaku, tapi kau perlu tahu
perasaanku padamu. I love you Lala!
Mungkin aku nggak sopan, tapi hatiku memaksaku untuk
menuliskan ini untukmu. Aku hanya ingin kau tahu.
Satu permintaanku padamu, tunggu aku, tunggu aku sampai aku
kembali lagi padamu. Empat tahun yang akan datang, aku janji!
Bukankah yang seperti itu yang engkau mau?
Tunggu aku!
Ryan
Sahabat dan orang yang
mencintaimu
Kebahagiaanku tak bisa ditahan, meluap-luap dari hatiku.
Aku janji Ryan, aku akan menunggumu, aku akan setia
menunggumu.

By : Nurul Maghfiroh

Related Posts

Tags

Share This

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *